Dari Sisi Prasejarah maupun Sejarah

DWQA QuestionsCategory: QuestionsDari Sisi Prasejarah maupun Sejarah
Forest Lammon asked 2 weeks ago

Tindik kelamin atau tindik genital adalah suatu tindik di bagian alat kelamin untuk menempatkan anting atau jenis aksesoris lainnya yang sesuai dengan lokasi tindik tersebut. Istilah tersebut juga memiliki arti yang cukup luas, tidak hanya merujuk kepada alat kelamin saja, tetapi meliputi area sekitar kelamin, yaitu anus, perineum, dan sekitar rambut kemaluan atau mons pubis. Tindik kelamin dapat dilakukan baik oleh pria maupun wanita, slut dengan berbagai jenis lokasi tindik yang tersedia. Alasan utama biasanya untuk mengubah penampilan dan aktualisasi diri; namun beberapa jenis tindik kelamin dapat menambah rangsangan dalam berhubungan seksual. Praktik penindikan kelamin pada masa kuno biasanya terjadi di kawasan Asia Tenggara. Catatan tentang praktik penindikan kelamin juga terdapat dalam buku Kama Sutra. Patung di Candi Sukuh (abad ke-15) di Jawa Tengah, dengan pose memegang penis yang ereksi, dengan dua bola-bola di ujung penis seperti tindik ampallang. Dari sisi prasejarah maupun sejarah, praktik penindikan kelamin umumnya tersebar di kawasan Asia Tenggara (terutama Indonesia, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Myanmar), dengan cara memasukkan berbagai jenis implan ke dalam kulit penis, yang masih dilakukan hingga masa kini, di samping praktik modifikasi tubuh lainnya seperti rajah, sunat, manik-manik (guli-guli), dan lain-lain. Tujuan utama penindikan tersebut adalah untuk menambah kenikmatan seksual. Praktik tersebut juga menyebar ke kawasan sekitarnya, contohnya tindik apadravya dari Asia Selatan, yaitu tindikan pada ujung penis secara tegak lurus (tidak seperti tindik ampallang di Asia Tenggara, yang ditindik secara melintang), yang tercatat dalam kitab Kama Sutra (abad ke-2 SM). Praktik tindik kelamin juga terdapat di belahan dunia lainnya, contohnya di Amerika Tengah meskipun jarang. Di Filipina, tradisi tindik kelamin pria tercatat oleh para penjelajah Eropa saat bertemu suku Bisaya. Tindik kelamin pria pada suku Bisaya terdiri dari sebuah semat atau jarum (biasanya terbuat dari emas, kuningan, timah, atau gading; seringkali diukir) yang disebut tugbuk atau tudruk yang ditusukkan secara melintang di ujung penis. Kedua ujungnya dihubungkan dengan sakra (kadang ditulis sacra atau sagra), berbentuk lingkaran atau setengah lingkaran (terbuat dari bahan yang sama dengan tugbuk) yang mengitari kepala penis, mirip dengan cock ring. Hiasan sakra bermacam-macam, tetapi biasanya dihiasi dengan gerigi tumpul di sekitarnya. Tradisi tersebut dicatat oleh penjelajah Italia bernama Antonio Pigafetta, yang menemani Ferdinand Magellan dalam ekspedisi Magellan pertama. Tindikan tersebut dipakai para pria sejak mulai remaja, dimaksudkan untuk menambah sensasi dan kenikmatan saat melakukan aktivitas seksual, bagi pemakai maupun pasangannya. Pigafetta juga menulis bahwa para wanitalah yang mengetahui cara memasukkan penis dengan sakra. Pria tanpa tindik kelamin diremehkan oleh para wanita sebagai asog (“lemah” atau “banci”). Tindik ampallang, yaitu tindikan yang sama dengan suku Bisaya (menembus ujung penis secara melintang tetapi tidak dihubungkan dengan cincin atau sejenisnya) juga ditemukan pada suku-suku asli wilayah Sarawak dan Sabah di pulau Kalimantan. Tindik kelamin pertama kali diperkenalkan di negara-negara barat melalui laporan etnografi, dilakukan oleh para pengelana Eropa pada abad ke-19. Menurut saya tindik kelamin senantiasa populer-hanya saja lebih dibahas secara terbuka pada masa kini, yang membuatnya semakin bisa diterima.

Join LIMARC

Ham Radio University