The Jakarta Post (dalam Bahasa Inggris)

DWQA QuestionsCategory: QuestionsThe Jakarta Post (dalam Bahasa Inggris)
Kattie Burrow asked 2 weeks ago

GANGBANG BOYS by, jrhyme-lil gonz-jaypee-mike jan-gary joe BND records (RAPILO)Yayoi Kusama (草間 彌生code: ja is deprecated , Kusama Yayoi, lahir 22 Maret 1929) adalah seniman kontemporer Jepang yang berkecimpung di bidang pematungan dan instalasi. Ia juga aktif di bidang seni lukis, seni pertunjukan, film, mode, syair, fiksi, dan lain-lain. Karya-karyanya beraliran seni konseptual dengan membawa unsur feminisme, minimalisme, surealisme, Art Brut, seni populer, dan ekspresionisme abstrak dan dipadukan dengan konten otobiografi, psikologis, dan seksual. Ia diakui sebagai salah satu seniman Jepang paling berpengaruh di dunia. Ia besar di Matsumoto dan mempelajari seni lukis nihonga di Sekolah Seni dan Kerajinan Kyoto . Kusama terinspirasi oleh aliran impresionisme abstrak Amerika Serikat. Ia pindah ke New York City tahun 1958 dan menjadi bagian dari lingkar seni avant-garde New York pada tahun 1960-an, khususnya dalam aliran seni populer. Seiring bangkitnya kontrabudaya hippie akhir tahun 1960-an, ia menjadi sorotan publik ketika ia membuat pertunjukan jalanan yang pesertanya bugil dan dicat polkadot cerah. Kusama aktif membuat karya seni sejak 1970-an. Instalasi-instalasinya dipamerkan di berbagai museum di seluruh dunia. Kusama mulai berkarya ketika masih kecil dan mulai menulis puisi pada usia 18 tahun. Kusama ingat bahwa bapaknya adalah “orang yang suka merayu perempuan lain”. Saat masih berusia sepuluh tahun, ia mulai mengalami halusinasi nyata berupa “kilatan cahaya, aura, atau pemandangan bintik-bintik padat”. Ia juga berhalusinasi melihat bunga yang berbicara kepada Kusama. Pola-pola kain yang dilihatnya menjadi hidup, berlipat ganda, lalu mengurung dan menutupi dirinya. Halusinasi yang dialaminya mengilhami karier artistiknya dan diberi julukan “penghancuran diri” (self-obliteration). Kabarnya, ia terpesona oleh bebatuan putih halus yang tersebar di dasar sungai dekat rumah keluarganya. Bebatuan tersebut merupakan salah satu hal yang membuatnya selalu suka dengan pola bintik. Ketika Kusama berusia 13 tahun, ia dikirim untuk bekerja di pabrik militer sebagai penjahit parasut untuk Angkatan Darat Kekaisaran Jepang di tengah Perang Dunia II. Ia mengaku menghabiskan masa remajanya di “ruang gelap tertutup”, tetapi sering mendengar sirene serangan udara dan melihat pesawat B-29 terbang di siang bolong. Masa kecilnya sangat dipengaruhi oleh perang. Menurutnya, saat-saat itulah yang membuatnya mulai menghargai kebebasan pribadi dan kreasi. Karena kurang menggemari gaya Jepang, Kusama mulai tertaik dengan avant-garde ala Eropa dan Amerika. Pada tahun 1950, Kusama menggambar bentuk alami abstrak menggunakan cat air, gouache, dan minyak di medium kertas. Ia mulai melukis polka dot di berbagai permukaan-tembok, lantai, kanvas, barang rumahan, dan asisten bugil-yang kelak menjadi ciri khas karya seninya. Bidang polka dot yang luas, atau “jaring tak terhingga” (infinity nets), terilhami langsung dari halusinasinya. Karya pertama yang diketahui mengandung bintik-bintik ini adalah lukisan tahun 1939 ketika Kusama berusia 10 tahun. Dalam lukisan itu terdapat seorang perempuan Jepang mengenakan kimono, diduga ibunya, yang ditutupi dan “dihancurkan” oleh bintik-bintik. Infinity Nets, dipenuhi oleh jaring atau bintik yang sama dengan bayangan halusinasinya. Suatu hari, saya sedang melihat pola bunga merah di taplak meja. Ketika saya melihat ke atas, saya juga melihat pola yang sama menutupi langit-langit, jendela, dan tembok, kemudian menutupi seluruh ruangan, tubuh saya, dan alam semesta. Saya merasa saya mulai menghancurkan diri sendiri, berputar-putar dalam ketidakterbatasan waktu dan kekakuan ruang, dan berubah menjadi ketiadaan. Saat saya sadar bahwa ini benar-benar terjadi dan bukan imajinasi belaka, saya takut. Saya tahu bahwa saya harus berlari agar kehidupan saya tidak tercerabut begitu saja oleh bunga-bunga merah. Saya berlari ke tangga. Anak-anak tangga mulai menghilang. Saya pun jatuh dari tangga sehingga betis saya terluka. Setelah tinggal di Tokyo dan Prancis, Kusama pindah dari Jepang ke Amerika Serikat pada usia 27 tahun. Tahun 1957, ia pindah ke Seattle dan mengadakan pameran lukisan di Zoe Dusanne Gallery. New York City setelah berkomunikasi dengan Georgia O’Keeffe. Kusama merasa tertarik dengan kota tersebut dan meminta saran dari O’Keeffe. Selama di Amerika Serikat, Kusama dikenal sebagai pemimpin aliran avant-garde dan mendapat pujian dari kritikus seni anarkis Herbert Read. Tahun 1961, ia memindahkan studionya ke gedung yang dihuni oleh Donald Judd dan pemahat Eva Hesse; Hesse kelak menjadi sahabat Kusama. Pada awal 1960-an, Kusama mulai menutupi tangga, sepatu, dan kursi dengan pahatan putih berbentuk falus. Meski gambar-gambarnya memiliki tingkat kerumitan yang tinggi, ia menggambarnya dengan cepat dan dalam jumlah besar sehingga tercipta pola produktivitas yang masih dipertahankannya sampai saat ini. Satu polka-dot berbentuk seperti matahari, simbol energi dunia dan kehidupan kita, dan bulan yang sifatnya tenang. Bundar, lembut, berwarna, tak berasa, dan tak bermakna. Polka dot adalah jalan menuju ketidakterbatasan. Sejak 1963, Kusama melanjutkan pembuatan ruang-ruang Mirror/Infinity. Di dalam instalasi cermin tak terhingga ini terdapat ruang khusus berdinding kaca berisi sejumlah bola berwarna neon yang menggantung secara acak di atas pengunjung. Ketika berdiri di dalamnya, pengunjung bisa melihat cahaya terpantul berulang-ulang di permukaan cermin sehingga menciptakan ilusi ruang tak terbatas. Beberapa tahun berikutnya, Kusama sangat produktif. Tahun 1966, ia bereksperimen dengan instalasi ruangan independen yang melibatkan cermin, cahaya, dan musik. Ia melibatkan Judd dan Joseph Cornell beserta para sahabat dan pendukungnya. Namun, ia tidak mendapat untung dari karya tersebut. Waktu itu, Kusama sering dirawat di rumah sakit karena kelelahan kerja. O’Keeffe meminta pedagang seninya, Edith Herbert, membeli beberapa karya Kusama untuk mempermudah kondisi keuangannya. Pada tahun 1960-an, Kusama mengadakan pameran dadakan di tempat-tempat terbuka seperti Central Park dan Jembatan Brooklyn. Pameran ini melibatkan ketelanjangan dan sengaja dirancang untuk memprotes Perang Vietnam. Dalam salah satu pamerannya, ia menulis surat terbuka kepada Richard Nixon yang berisi tawaran berhubungan seks apabila ia bersedia menghentikan Perang Vietnam. Sejak 1967 sampai 1969, ia membuat pertunjukan yang diiklankan secara besar-besaran. Pertunjukan ini biasanya menampilkan Kusama melukis polka dot di tubuh peserta, misalnya Grand Orgy to Awaken the Dead at the MoMA (1969) di Sculpture Garden, Museum of Modern Art. Pada acara mendadak itu, delapan orang di bawah arahan Kusama membuka pakaian mereka, masuk air terjun dalam keadaan telanjang, dan berpose seperti patung-patung buatan Picasso, Giacometti, dan Maillol di sekitarnya. Tahun 1968, Kusama mengadakan pameran dadakan berjudul Homosexual Wedding at the Church of Self-obliteration di 33 Walker Street, New York, dan mengadakan pertunjukan bersama Fleetwood Mac dan Country Joe and the Fish di Fillmore East, New York City. Ia membuka studio lukis telanjang dan klub sosial gay bernama Kusama ‘Omophile Kompany (kok). Tahun 1966, Kusama untuk pertama kalinya berpartisipasi dalam Venice Biennale ke-33. Narcissus Garden yang dipamerkannya terdiri atas ratusan bola cermin luar ruangan yang ia juluki sebagai “karpet kinetik”. 1.200 lire (US$2) per unit sampai dilarang oleh panitia. Narcissus Garden adalah karya seni tentang promosi seniman melalui media sekaligus sindiran terhadap mekanisasi dan komodifikasi pasar seni. Saat tinggal di New York, Kusama sempat menjalin hubungan dengan seniman Donald Judd. Ia kemudian membina hubungan platonik dengan seniman surealis Joseph Cornell. Ia 26 tahun lebih muda daripada Cornell-mereka saling menelepon setiap hari, menggambar satu sama lain, dan Cornell mengirim kolase pribadinya kepada Kusama. Pada tahun 1973, Kusama pulang ke Jepang karena kesehatannya memburuk. Ia mulai menulis novel, cerita pendek, dan puisi yang sangat viseral dan surealis. Ia menjadi pedagang seni, tetapi bangkrut beberapa tahun kemudian. Tahun 1977, Kusama memeriksa kesehatan jiwanya di Rumah Sakit Seiwa. Atas kehendaknya sendiri, ia memutuskan tinggal di rumah sakit secara permanen. Studio yang telah menelurkan karya-karyanya sejak pertengahan 1970-an tidak jauh dari rumah sakit tersebut di Shinjuku, Tokyo. Dari sini, ia terus membuat karya seni di berbagai medium dan merintis karier sastra dengan menerbitkan sejumlah novel, koleksi puisi, dan otobiografi. Gaya lukisnya beralih menjadi akrilik cerah di kanvas berukuran besar. Lukisan abstrak organik yang terdiri dari satu atau dua warna (seri Infinity Nets) yang mulai dibuat sejak ia tinggal di New York telah disejajarkan dengan lukisan Jackson Pollock, Mark Rothko, dan Barnett Newman. Ketika ia pulang ke Jepang, namanya terlupakan dari dunia seni sampai akhir 1980-an dan 1990-an ketika sejumlah kegiatan retrospektif membangkitkan ketertarikan masyarakat internasional terhadap Yayoi Kusama. Usai suksesnya paviliun Jepang di Venice Biennale tahun 1993 (berupa ruang cermin berisi patung-patung labu kecil disertai Kusama yang mengenakan pakaian pesulap berwarna khusus), Kusama memproduksi patung labu kuning raksasa yang dipenuhi pola bintik hitam optik. Labu ini mencerminkan alter-ego atau potret diri Kusama. Instalasi selanjutnya, I’m Here, but Nothing (2000-2008), berupa ruang sederhana berisi meja dan kursi, pernak-pernik dan botol, sofa dan karpet, tetapi dindingnya dipenuhi oleh ratusan polka dot fluoresen yang berpendar apabila terkena cahaya UV. Hasilnya adalah ruang tak terhingga yang “menghancurkan” diri dan semua barang di dalam ruangan. Guidepost to the New Space, rangkaian “gundukan” bulat berwarna merah cerah dengan polka dot putih, dipamerkan di Danau Pandanus. Pada usia tuanya, Kusama tetap melanjutkan kariernya sebagai seniman. Ia kembali ke masa-masa awalnya dengan menggambar dan melukis. Karya-karyanya tetap inovatif dan multidisipliner. Sebuah pameran tahun 2012 menampilkan beberapa lukisan akrilik di kanvas dan eksplorasi ruang tak terhingga lewat ruang Infinity Mirror. Terdapat ruang kotak berdinding cermin yang dibanjiri air dan lampu nyala-mati. Fitur-fitur ini diartikan sebagai pola kehidupan dan kematian. Tahun 2017, retrospektif 50 tahun karyanya dibuka di Hirshhorn Museum di Washington, DC. Pameran ini menampilkan enam ruang Infinity Mirror dan digilir ke lima museum di Amerika Serikat dan Kanada. Pada tanggal 25 Februari 2017, pameran All the Eternal Love I Have for the Pumpkins, satu dari enam komponen ruang Infinity Mirror di Hirshhorn Museum, ditutup sementara selama tiga hari karena salah satu patung labunya rusak. 60 patung labu ini adalah salah satu atraksi museum yang paling populer. Allison Peck, juru bicara Hirshhorn, mengatakan bahwa museum ini “belum pernah memiliki pameran yang jumlah pengunjungnya sebanyak itu.” Jumlah pengunjung ruangan mencapai lebih dari 8.000 orang sejak dibuka sampai tutup sementara. Meski media menurunkan berbagai berita tentang kerugian patung yang rusak dan rentetan peristiwanya, Allison Peck mengatakan bahwa “setiap patung tidak punya nilai intrinsik. Patung ini merupakan komponen buatan dari pameran yang lebih besar.” Pameran ini ditata ulang sambil menunggu patung baru dari Kusama. Pada tahun yang sama, Yayoi Kusama Museum dibuka di Tokyo dan memamerkan karya-karyanya. Dalam Walking Piece (1966), pertunjukan yang didokumentasikan oleh delapan belas foto berwarna, Kusama menyusuri jalanan New York City mengenakan kimono tradisional Jepang sambil membawa payung. Kimono menandakan peran perempuan secara tradisional dalam adat Jepang. Payungnya dirancang supaya terlihat palsu karena sebenarnya merupakan payung hitam yang luarnya dicat putih dan dihiasi bunga palsu. Kusama melewati jalanan sepi tanpa tujuan. Ia kemudian berbalik dan tiba-tiba menangis, lalu berjalan menjauh dan menghilang. Pertunjukan yang melibatkan kimono ini menyoroti stereotipe yang selalu dihadapi perempuan Asia-Amerika. Namun, gangbang sebagai seniman avant-garde yang tinggal di New York, pengalaman hidupnya mengubah konteks busana tersebut sehingga menciptakan percampuran lintas budaya. Kusama mampu menyoroti stereotipe yang dilontarkan pengamat karyanya yang berkulit putih dengan menunjukkan bahwa pengelompokkan masyarakat berdasarkan budaya di negara multikultural terbesar di dunia sangat tidak masuk akal. Pada tahun 1968, film Kusama’s Self-Obliteration yang diproduseri dan dibintangi Kusama memenangi penghargaan pada ajang International Experimental Film Competition di Belgia dan Maryland Film Festival dan juara kedua di Ann Arbor Film Festival. Tahun 1991, Kusama membintangi film Tokyo Decadence, ditulis dan disutradarai Ryu Murakami. Tahun 1993, ia berkolaborasi dengan musisi Britania Peter Gabriel dalam pembuatan instalasi di Yokohama. Pada tahun 1968, Kusama mendirikan Kusama Fashion Company Ltd dan menjual busana avantgarde di “Kusama Corner” di Bloomingdales. Tahun 2009, Kusama merancang ponsel berbentuk tas tangan bernama Handbag for Space Travel, My Doggie Ring-Ring, telepon berbintik merah jambu dengan gagang berbentuk anjing, dan telepon berbintik merah putih di dalam kotak berbintik bernama Dots Obsession, Full Happiness With Dots untuk KDDI Corporation. Setiap telepon hanya diproduksi sebanyak 1.000 unit. Pada tahun 2011, Kusama membuat karya seni untuk created artwork for six limited-edition lipglosses from Lancôme. Produk-produk tersebut dijual tahun 2012 di sebuah toko dadakan di SoHo yang dihiasi polkadot khas Kusama. Enam toko dadakan kemudian dibuka di seluruh dunia. Ketika ditanyai tentang kolaborasinya bersama Marc Jacobs, Kusama menjawab bahwa “pandangan Marc terhadap seni” sejalan dengan pandangan dirinya. Tahun 1977, Kusama menerbitkan buku puisi dan lukisan berjudul 7. Setahun kemudian, ia menerbitkan novel pertamanya, Manhattan Suicide Addict. Sejak 1983 sampai 1990, ia menerbitkan novel The Hustler’s Grotto of Christopher Street (1983), The Burning of St Mark’s Church (1985), Between Heaven and Earth (1988), Woodstock Phallus Cutter (1988), Aching Chandelier (1989), Double Suicide at Sakuragazuka (1989), dan Angels in Cape Cod (1990), serta beberapa edisi majalah S&M Sniper bekerja sama dengan fotografer Nobuyoshi Araki. Jepang, pindah ke Amerika Serikat, dan pulang ke Jepang. Infinity Net juga menyertakan sebagian puisi dan foto pameran Kusama. Kusama telah membuat sejumlah patung pesanan luar ruangan berukuran besar. Banyak di antaranya berbentuk tumbuhan dan bunga raksasa berwarna cerah. Patun-patung ini dipamerkan di berbagai lembaga publik dan swasta, termasuk Pumpkin (1994) di Museum Seni Kota Fukuoka; The Visionary Flowers (2002) di Museum Seni Kota Matsumoto; Tsumari in Bloom (2003) di Stasiun Matsudai, Niigata; Tulipes de Shangri-La (2003) di Euralille di Lille, Prancis; Pumpkin (2006) di Bunka-mura di Pulau Benesse, Naoshima; Hello, Anyang with Love (2007) di Pyeonghwa Park, Anyang; dan The Hymn of Life: Tulips (2007) di Beverly Gardens Park di Los Angeles. Tahun 1998, ia menggambar mural untuk lorong stasiun kereta bawah tanah Gare do Oriente di Lisbon. Selain karya-karya monumental tersebut, ia juga membuat patung luar ruangan berukuran kecil seperti Key-Chan dan Ryu-Chan, sepasang anjing berbintik. Semua patung luar ruangan dicetak menggunakan plastik kaca serat yang tahan banting, lalu dicat menggunakan uretan supaya mengkilap. Pada tahun 2010, Kusama merancang bus bergaya Town Sneaker yang diberi judul Mizutama Ranbu (Wild Polka Dot Dance). Bus ini berjalan melintasi kampung halamannya, Matsumoto. Tahun 2011, ia diminta merancang sampul depan peta saku London Underground; karya ini diberi judul Polka Dots Festival in London (2011). Bertepatan dengan pameran Kusama di Whitney Museum of American Art tahun 2012, reproduksi lukisan Kusama berukuran 36 meter, Yellow Trees (1994), menghiasi gedung apartemen yang sedang dibangun di New York’s Meatpacking District. Pada tahun yang sama, Kusama membuat instalasi lantai berjudul Thousands of Eyes untuk Queen Elizabeth II Courts of Law, Brisbane. Rodenbeck, J.F. “Yayoi Kusama: Surface, Stitch, Skin.” Zegher, M. Catherine de. Inside the Visible: An Elliptical Traverse of 20th Century Art in, of, and from the Feminine. Kusama, Yayoi, and Damien Hirst. Kusama, Yayoi, and Lynn Zelevansky. Kusama, Yayoi. Yayoi Kusama. Kusama, Yayoi. Yayoi Kusama. Kusama, Yayoi, and Tōru Matsumoto. Tōkyō Kokuritsu Kindai Bijutsukan, 26 Oktober-19 Desember 2004; Kyōto Kokuritsu Kindai Bijutsukan, 6 Januari-13 Februari 2005; Hiroshima-shi Gendai Bijutsukan, Feb. Applin, Jo, and Yayoi Kusama. Kusama, Yayoi. Yayoi Kusama. Morris, Frances, and Jo Applin. Kusama, Yayoi, and Akira Tatehata. Yayoi Kusama: I Who Have Arrived in Heaven. Carroll, Lewis and Yayoi Kusama. Lewis Carroll’s Alice’s Adventures in Wonderland. Nakajima, Izumi. “Yayoi Kusama between abstraction and pathology.” Pollock, Griselda. Psychoanalysis and the Image: Transdisciplinary Perspectives. Malden, MA: Blackwell Pub, 2006. pp. Klaus Podoll, “Die Künstlerin Yayoi Kusama als pathographischer Fall.” Schulz R, Bonanni G, Bormuth M, eds. Wahrheit ist, was uns verbindet: Karl Jaspers’ Kunst zu philosophieren. Göttingen, Wallstein, 2009. p. Cutler, Jody B. “Narcissus, Narcosis, Neurosis: The Visions of Yayoi Kusama.” Wallace, Isabelle Loring, and Jennie Hirsh. Contemporary Art and Classical Myth. Farnham, Surrey: Ashgate, 2011. pp. Kusama, Yayoi. A Book of Poems and Paintings. Kusama, Yayoi, Ralph F. McCarthy, Hisako Ifshin, and Yayoi Kusama. Kusama, Yayoi, Ralph F. McCarthy, Yayoi Kusama, and Yayoi Kusama. Hustlers Grotto: Three Novellas. Kusama, Yayoi. Infinity Net: The Autobiography of Yayoi Kusama. Kusama, Yayoï, and Isabelle Charrier. Kusama, Yayoi. Yayoi Kusama: Print Works. Hoptman, Laura, Akira Tatehata, and Udo Kultermann. Kusama, Yayoi, and Hideki Yasuda. Yayoi Kusama Furniture by Graf: Decorative Mode No. Kusama, Yayoi, Laura Hoptman, Akira Tatehata, Udo Kultermann, Catherine Taft. Pada tahun 1959, Kusama membuka pameran solo pertamanya di New York di Brata Gallery, sebuah bengkel seni. Ia memamerkan sejumlah lukisan jaring putih yang mendapat pujian dari Donald Judd (Judd dan Frank Stella kemudian membeli lukisan dari kegiatan tersebut). Kusama kemudian memamerkan karyanya bersama sejumlah seniman, antara lain Claes Oldenburg, Andy Warhol, dan Jasper Johns. Bersama seniman-seniman Eropa seperti Lucio Fontana, Pol Bury, Otto Piene, dan Gunther Uecker, pada tahun 1962, Kusama menjadi satu-satunya seniman perempuan yang terlibat dalam pameran kelompok internasional Nul di Stedelijk Museum, Amsterdam. 2007: FINA Festival 2007. Kusama membuat Guidepost to the New Space, instalasi luar ruangan cerah untuk Birrarung Marr di pinggir Sungai Yarra di Melbourne. Tahun 2009, Guidepost dipamerkan di Fairchild Tropical Botanic Garden, kali ini berbentuk “gundukan” terapung di danau. August 2010: Aichi Triennale 2010, Nagoya. Karya dipamerkan di dalam dan luar Pusat Kesenian Aichi dan melibatkan proyek polka dot mobil Toyota. 2010: Museum Boijmans Van Beuningen membeli Infinity Mirror Room – Phalli’s Field. Pada 13 September 2010, ruang cermin ini dipamerkan secara permanen di lobi museum. 2012: Tate Modern, London. Pameran ini menampilkan retrospektif karier Kusama. 12 Juni – 9 Agustus 2015: Yayoi Kusama: Infinity Theory, The Garage Museum of Contemporary Art, Moskwa, Rusia. Ini adalah pameran solo pertama Kusama di Rusia. 1 Mei 2016 – 30 November 2016: Yayoi Kusama: Narcissus Garden, The Glass House, New Canaan, Connecticut. 25 Mei 2016 – 30 Juli 2016: Yayoi Kusama: sculptures, paintings & mirror rooms, Victoria Miro Gallery, London, Britania Raya. 7 Oktober 2016 – 22 Januari 2017: Yayoi Kusama: In Infinity, diselenggarakan oleh Louisiana Museum of Modern Art bekerja sama dengan Henie Onstad Kunstsenter, Moderna Museet/ArkDes dan Helsinki Art Museum HAM di Helsinki, Finlandia. 5 November 2016 – 17 April 2017: “Dot Obsessions – Tasmania,” MONA: Museum of Old and New Art, Hobart, Australia. 9 Juni 2017 – 3 September 2017: Yayoi Kusama: Life is the Heart of a Rainbow, National Gallery Singapura. Karya-karya Kusama menjadi koleksi museum di seluruh dunia, termasuk Museum of Modern Art, New York; Los Angeles County Museum of Art, Los Angeles; Walker Art Center, Minneapolis; Phoenix Art Museum, Phoenix; Tate Modern, London; Stedelijk Museum, Amsterdam; Centre Pompidou, Paris; Utah Museum of Fine Arts, Salt Lake City, UT; dan National Museum of Modern Art, Tokyo. Pada tahun 2017, retrospektif 50 tahun karya Kusama dibuka di Hirshhorn Museum di Washington DC. Pada tahun itu juga, Yayoi Kusama Museum dibuka di Tokyo. Kusama mendapat banyak penghargaan, termasuk Asahi Prize (2001); Ordre des Arts et des Lettres (2003); National Lifetime Achievement Award dari Order of the Rising Sun (2006); dan Lifetime Achievement Award from the Women’s Caucus for Art. Pada Oktober 2006, Kusama menjadi perempuan Jepang pertama yang dianugerahi Praemium Imperiale, salah satu penghargaan tertinggi Jepang untuk seniman yang diakui secara internasional. Tahun 2014, Kusama digelari seniman terpopuler tahun itu setelah pamerannya di Amerika Latin, Yayoi Kusama: Infinite Obsession, mencetak rekor jumlah pengunjung. Galeri di Buenos Aires sampai Mexico City dikunjungi oleh lebih dari 8.500 orang per hari. Kusama juga mendapat sorotan media setelah bekerja sama dengan Hirshhorn Museum and Sculpture Garden agar ruang Infinity Mirror-nya bisa diakses oleh penyandang disabilitas atau mobilitas. Pada tahun 1960-an, Gres Gallery milik Beatrice Perry memainkan peran penting dalam merintis karier Kusama di Amerika Serikat. Kusama keluar dari Gagosian Gallery pada akhir 2012; sebelum pindah ke Gagosian, ia bekerja sama dengan Robert Miller Gallery, New York. Kusama diwakili oleh Victoria Miro Gallery sejak awal 2000-an dan bergabung dengan David Zwirner pada tahun 2013. Saat ini Kusama diwakili oleh David Zwirner, Ota Fine Arts, dan Victoria Miro Gallery. Karya-karya Kusama mendapat perhatian tinggi di rumah lelang. Lukisan-lukisan akhir 1950-an dan awal 1960-an menyabet harga tertinggi. Per tahun 2012, nilai karyanya tertinggi di kalangan seniman perempuan yang masih hidup. No. 2, senilai US$5,1 juta, waktu itu merupakan rekor bagi seniman perempuan yang masih hidup. Flame of Life – Dedicated to Tu-Fu (Du-Fu) terjual senilai US$960.000 di Art Basel/Hong Kong pada Mei 2013, harga tertinggi di acara tersebut. Kusama menjadi seniman perempuan hidup termahal di industri lelang setelah White No. Yamamura, Midori (2015) Yayoi Kusama: Inventing the Singular. Griselda., Pollock, (2006). Psychoanalysis and the image : transdisciplinary perspectives. Malden, MA: Blackwell Pub. The Museum of Modern Art (dalam bahasa Inggris). The Museum of Modern Art (dalam bahasa Inggris). Farah Nayeri (February 14, 2012), Man-Hating Artist Kusama Covers Tate Modern in Dots: Interview Bloomberg. Butler, Cornelia (2007). WACK! Art and the Feminist Revolution. Frank, Priscilla (2017-02-09). “Japanese Artist Yayoi Kusama Is About To Make 2017 Infinitely Better”. Huffington Post (dalam bahasa Inggris). Cotter, Holland (2012-07-12). “Yayoi Kusama at Whitney Museum of American Art”. The New York Times. Furman, Anna. “Yayoi Kusama Made the Ultimate Instagram Exhibit”. The Cut (dalam bahasa Inggris). Yayoi Kusama Timeline Queensland Art Gallery, Brisbane. Taylor, Rachel (6 March 2012). “Yayoi Kusama’s early years”. Yayoi Kusama, November 18, 1998 – January 8, 1999 Victoria Miro Gallery, London. David Pilling (January 20, 2012), The world according to Yayoi Kusama Financial Times Weekend Magazine. Holland Cotter (July 12, 2012), Vivid Hallucinations From a Fragile Life – Yayoi Kusama at Whitney Museum of American Art New York Times. Yayoi Kusama MoMA Collection, New York. Tokyo: Kosakusha , (extract) reproduced in Hoptman, Yayoi Kusama, et al., hlm. Yayoi Kusama: Soul under the moon (2002) Queensland Art Gallery, Queensland. Midori, Yoshimoto (2005). Into performance: Japanese women artists in New York. Rutgers University Press. hlm. Carl Swanson (July 8, 2012), The Art of the Flame-Out New York Magazine. Sullivan, Marin R. “Reflective Acts and Mirrored Images: Yayoi Kusama’s Narcissus Garden.” History of Photography 39.4 (2015): 405-423. Taylor & Francis Online. Chappo, Ashley. “The Stunning Story of the Woman Who Is the World’s Most Popular Artist”. Yayoi Kusama: Flowers That Bloom Tomorrow, October 7, – November 13, 2010 Victoria Miro Gallery, London. Taylor, Rachel (2012). Yayoi Kusama: Recent Work 2009-2012. London: Tate. Dingfelder, Sadie (21 February 2017). “This exhibit is going to blow up your Instagram feed – and rewrite art history”. Hauser, Christine (2017-02-28). “Kusama Infinity Room Reopens at Hirshhorn Exhibition After Sculpture Damage”. The New York Times. 0:00/-:. “Yayoi Kusama Museum opens, sells out”. Schultz, Stacy E. (2012). “Asian American Women Artists: Performative Strategies Redefined”. Journal of Asian American Studies. Midori Matsui, Interview: Yayoi Kusama, 1998 Index Magazine. Art Editions: Yayoi Kusama KDDI Corporation. Emili Vesilind (May 24, 2011), Lancôme collaborates with Japanese artist Yayoi Kusama on new Juicy Tubes Los Angeles Times. British Vogue (dalam bahasa Inggris). Ann Binlot (January 9, 2012), Marc Jacobs Recruits Yayoi Kusama for Latest Louis Vuitton Collaboration Diarsipkan 2013-10-31 di Wayback Machine. The Cut (dalam bahasa Inggris). Kusama, Yayoi (2003). Infinity Net. Gagosian Gallery, New York/Los Angeles. Yayoi Kusama: Outdoor Sculptures, June 23, – July 25, 2009 Victoria Miro Gallery, London. Laura Kusisto (August 2, 2012), ‘Yellow Trees’ Growing Wall Street Journal. Des Houghton (June 08, 2012), Justice Minister Jarrod Bleijie condemns Yayoi Kusama artwork at new Supreme Court and District Court building in Brisbane The Courier-Mail. Yayoi Kusama: Mirrored Years, 23 August – 19 October 2008 Diarsipkan May 25, 2012, di Wayback Machine. Museum Boijmans Van Beuningen, Rotterdam. December 5, 2009 – May 30, 2010 Diarsipkan 2013-12-17 di Wayback Machine. Fairchild Tropical Botanic Garden. What’s On. Tate Modern. Rogers, Sam (September 25, 2015). “In infinity: Yayoi Kusama’s dots take over the Louisiana Museum of Modern Art”. Garage Museum of Contemporary Art. Finkel, Jori (2016-08-16). “Yayoi Kusama to Be the Focus of a Touring Museum Show”. The New York Times. Post, The Jakarta. “Yayoi Kusama’s works finally arrive in Jakarta”. The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Louisiana Museum of Modern Art. Love Forever: Yayoi Kusama, 1958-1968, July 9 – September 22, 1998, The Museum of Modern Art, New York. YAYOI KUSAMA, July 12 – Sept 30, 2012, Whitney Museum of American Art, New York. Yayoi Kusama, 9 February – 5 June 2012, Tate Modern, London. Blouinartinfo (January 23, 2007). “Art News: Kusama First Japanese Woman to Win Coveted Art Award”. Pes, Javier. “Visitor Figures 2014: The World Goes Dotty Over Yayoi Kusama”. Lesser, Casey (2017-02-17). “Yayoi Kusama’s Infinity Rooms Made Accessible to People with Disabilities for First Time”. Bridget Moriarity (March 5, 2009), Artist Dossier: Yayoi Kusama ARTINFO. Claudia Bodin (May 5, 2009), Kusama bleibt Kusama Diarsipkan October 23, 2013, di Wayback Machine. Charlotte Burns (14 December 2012), Yayoi Kusama also leaves Gagosian The Art Newspaper. Sarah Thornton (May 20, 2012), The price of being female The Economist. Cross-Cultural Journeys: Yayoi Kusama and Kenzo Okada Christie’s. ’ Sells for $82 Million Wall Street Journal. Wikimedia Commons memiliki media mengenai Yayoi Kusama. Smith, Roberta. “Yayoi Kusama and the Amazing Polka dotted selfie made journey to greatness”. New York times. The New York Times. Earth is a polka dot. Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk rincian lebih lanjut.

Join LIMARC

Ham Radio University