Scientific American. 272 (3): 58-88. Doi:10.1038/scientificamerican0395-82

DWQA QuestionsCategory: QuestionsScientific American. 272 (3): 58-88. Doi:10.1038/scientificamerican0395-82
Rocky Govan asked 3 weeks ago

My Fiance Wants Group Sex!Frot (kependekan dari frottage, dari bahasa Prancis: frotter, “menggesek”) adalah sebuah bentuk seks nonpenetratif pada lelaki seks lelaki ketika penis disentuhkan ke penis pasangan. Karena frot tidak melibatkan penetrasi sehingga meminimalkan penyebaran HIV/AIDS, frot dinilai cenderung lebih aman. Akan tetapi, frot masih dapat menularkan penyakit lainnya seperti HPV dan kutu kelamin. Karena itu, perilaku saling menggesekkan penis antara pejantan diperkirakan telah ada sebelum pemisahan evolusi antara manusia dengan bonobo. Definisi modern dari frot muncul dalam konteks perdebatan mengenai seks anal di kalangan pria gay. Beberapa yang tidak menyukai seks anal lebih memilih frot dan menganggap seks anal harus dihindari. Aktivis gay, Bill Weintraub, mulai mengkampanyekan istilah frot untuk menyebut penggesekan penis dan penis di forum-forum Internet pada akhir tahun 1990-an. Ia menyebutkan bahwa kata bahasa Prancis frottage dapat digunakan untuk perilaku erotis apapun yang melibatkan penggesekan sementara frot hanya berlaku untuk penis dan penis. Oxford style, Princeton rub, dan Ivy League rub. Karena frot tidak melibatkan penetrasi, risiko menularnya sebuah penyakit menular seksual (PMS) dapat berkurang dengan tidak adanya kontak antara membran mukosa dengan cairan praejakulasi atau semen. Hal ini membuat frot dipandang sebagai seks yang lebih aman. Penelitian menunjukkan tidak ada risiko penularan HIV melalui frot. Meskipun demikian, frot masih dapat menularkan penyakit lainnya seperti HPV dan kutu kelamin. Beberapa pria gay ataupun lelaki seks lelaki (LSL) cenderung memilih frot atau bentuk masturbasi bersama lainnya karena dinilai lebih nyaman dan lebih emosional ketimbang seks anal. Sebagian lainnya beralasan frot merupakan pilihan alternatif yang lebih aman daripada penetrasi anal. Beberapa pendukung frot menyatakan bahwa posisi seperti top dan bottom membuat adanya ketidaksetaraan dalam seks. Pandangan tersebut diperdebatkan oleh ilmuwan yang menyebut bahwa tidak ada bukti jelas yang dapat menunjukkan pola umum atau maskulinitas pada hubungan pria gay. Seks anal dapat dipandang sebagai hal maskulin masing-masing pasangan. Seks anal sering dianggap merupakan seks yang biasa pada LSL. Beberapa LSL menolak alasan-alasan pendukung frot dan menilai frot sebagai hubungan intim yang lebih rendah. Psikolog, Walt Odets, berpikiran bahwa seks anal bagi pria gay dapat dipandang sebaga kesamaan dengan seks penis-vagina bagi orang heteroseksual. Karena itu, tidak akan mungkin dapat meminta pria gay berhenti melakukan seks anal sama halnya dengan meminta orang heteroseksual berhenti melakukan seks penis-vagina. Seksolog dan ahli psikoterapi, Joe Kort, mengajukan istilah side untuk pria gay yang tidak tertarik dengan seks anal dan lebih memilih hubungan intim lainnya. Ia menilai bahwa seseorang yang tidak menyukai seks anal buakn berarti ia tidak dapat berhubungan seks “betulan”. Wikimedia Commons memiliki media mengenai Frot. The Advocate. 2005-04-12. hlm. Hales, Dianne (2008). An Invitation to Health Brief 2010-2011. Cengage Learning. Waal, Frans B. M. (March 1995). “Bonobo group sex and Society” (PDF). Scientific American. 272 (3): 58-88. doi:10.1038/scientificamerican0395-82. PMID 7871411. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 27 January 2012. Diakses tanggal 21 December 2011. They also practice so-called penis-fencing, in which two males hang face to face from a branch while rubbing their erect penises together. Perhaps the bonobo’s most typical sexual pattern, undocumented in any other primate, is genito-genital rubbing (or GG rubbing) between adult females. One female facing another clings with arms and legs to a partner that, standing on both hands and feet, lifts her off the ground. Paoli T, Palagi E, Tacconi G, Tarli SB (Apr 2006). “Perineal swelling, intermenstrual cycle, and female sexual behavior in bonobos (Pan paniscus)”. Am J Primatol. 68 (4): 333-47. doi:10.1002/ajp.20228. M., Hodge; Blackwood, Evelyn; Dickemann, Jeffrey M.; Jones, Doug; Muscarella, Frank; Vasey, Paul L.; Williams, Walter L. (2000). “The Evolution of Human Homosexual Behavior”. Current Anthropology. 41 (3): 385-413. doi:10.1086/300145. Piepenburg, Erik. “What’s Rub Got to Do With it?”. Out. No. Maret 2006. hlm. Kelly, Jeffrey A (October 1995). “Advances in HIV/AIDS education and prevention”. Family Relations. National Council on Family Relations. 44 (4): 345-352. doi:10.2307/584989. Pilowsky, Daniel; Wu, Li-Tzy (2015). “Sexual risk behaviors and HIV risk among Americans aged 50 years or older: a review”. Substance Abuse and Rehabilitation: 51-60. doi:10.2147/SAR.S78808. Joseph Gross, Michael (2003). Like a Virgin. The Advocate. Here Publishing. Edwin Clark Johnson; Toby Johnson (2008). Gay Perspective: Things Our Homosexuality Tells Us about the Nature of God & the Universe. Steven Gregory Underwood (2003). Gay men and anal eroticism: tops, bottoms, and versatiles. Dolby, Tom. “Why Some Gay Men Don’t Go All The Way”. Out. No. Februari 2004. hlm. Harvey, John H.; Wenzel, Amy; Sprecher, Susan (2004). The handbook of sexuality in close relationships. Bell, Robin (13 February 1999). “Homosexual men and women”. Kort, Joe (2013-04-16). “Guys on the ‘Side’: Looking Beyond Gay Tops and Bottoms”. Rosenberger, Joshua G. (2011). “Sexual Behaviors and Situational Characteristics of Most Recent Male-Partnered Sexual Event among Gay and Bisexually Identified Men in the United States”. The Journal of Sexual Medicine. Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk rincian lebih lanjut.Meet the MILFs | MILF Manor | TLC Southeast Asia

Join LIMARC

Ham Radio University